Senja Kala Media Cetak Mampukah Ditahan??

​

Ilustrasi

Gambar ilustrasi

obsesinews.com-Media digital bukanlah sekedar tren atau entitas baru media. Ia adalah revolusi atas pemenuhan hak-hak dasar manusia dalam informasi. Inilah alasan pertama mengapa media digital membunuh koran: karena ia berhasil menyelesaikan masalah dasar manusia yang sebelumnya tak bisa dipecahkan media tradisional. 


Pertanyaannya, apakah masa-masa berita jadi sesuatu yang dicari sudah usai? Jawabnya, kini, berita yang mencari kita. “If news is important to me, it will find me”. Darimana anda sehari-hari membaca berita atau membuka tautan? Dari Facebook dan Twitter. Muncul begitu saja tanpa pernah dicari. Tiba-tiba kita dikasih link berita. Iya kan?

Begitulah adanya berita di era ini. Ia tak hanya harus mendatangi pembaca, tapi juga tak cukup lagi hanya dibaca. Berita harus bisa dibagikan (menjadi viral) dan bisa diinteraksikan (engagement). Semua itu berlangsung dalam jejaring masif serta ekosistem komoditas yang tak berbayar. 

Salah kaprah yang amat parah juga terjadi pada media tradisional dalam melakukan diversifikasi atau penganekaragaman produk untuk menjangkau pembaca online. Mereka berpikir dengan mempublikasikan tulisan versi cetak ke versi online lewat website sudah cukup. 

Kenyataannya? pembaca cetak dan pembaca online punya perilaku sangat berbeda. Pembaca digital cenderung tak menyortir, tak konsisten, tak kritis, melompat-lompat dan tak sabar. Pembaca online atau digital tidak benar-benar membaca, tapi ‘memindai’ (scanning/skimming) halaman. 

Pemindaian inilah yang kita kenal dengan istilah power browse: cepat dan melompat-lompat. Dan, menjadi pening kepala ketika perilaku membaca konten digital ini turut terbawa saat membaca konten cetak. 

Yang membaca berita koran dari paragrap satu sampai paragrap akhir mungkin hanya kakek atau ayah kita. Sementara kita melakukannya dengan cara ‘memindai’, persis seperti membaca konten digital. 

Dihadapkan pada perubahan perilaku pembaca ini kebanyakan pelaku media tradisional tergagap. Dari kebiasaan membuat laporan panjang dan lengkap, menjadi tulisan yang ringkas dan cepat. 

Tulisan yang ringkas dan cepat itu berpotensi menerobos kaidah dan etika jurnalistik. Minat tulisan berpanjang-panjang tak akan dapat pembaca. Karya features, sastra menjadi kesukaan orang-orang tertentu saja. 

Di lain sisi, smart phone dan tablet menjadi perangkat yang ‘melekat tetap’ pada manusia untuk berkomunikasi, mendapatkan informasi, menciptakan konten, menonton video, mendengarkan musik, gaya hidup, hobi dan lainnya.One device for all. Semua kontennya gratis. 

Adanya kehadiran smart phone, perlombaan memperingkas koran jadi tak relevan lagi. Sementara dari sisi pendapatan terasa meredup: pengiklan memperketat bujet, kue anggaran iklan media cetak yang makin mengecil, makin sulitnya mendapatkan pelanggan. Model bisnis ini yang sudah lama mapan di bisnis media tradisional. 

Di sisi seberang, media digital bukan hanya berhasil merebut pembaca dan pengiklan, tapi sekaligus dioperasikan dengan biaya sangat rendah. Surat kabar The Guardian’s sebagai contoh yang melangkah lebih jauh dalam mengkonversimedia cetak menjadi media online berbasis open platform. Mereka membuka semua aset data artikel, video dan video dari tahun 1999 kepada publik, dan mengizinkan semua orang melakukan remixing. 

Kini media tradisonal cetak, dihadapkan pada tantangan mesti bertahan ketika tanda-tanda kehidupan di depan makin redup. Dan solusinya samasekali belum jelas. Anak muda sekarang tak lagi membaca koran, setidaknya tidak membaca dengan cara lama. Mereka mengonsumsi informasi sebagai komoditas gratis di internet dan mereka temukan dari jejaring pertemanan media sosial. 

Maka, model bisnis informasi atau berita berbayar tidak akan berhasil untuk generasi selanjutnya. Kedua, fokus pada niche atau ceruk informasi. Orang akan bersedia membayar demi nilai unik yang terkandung dalam komoditas. 

Tantangan bagi para pengembang di era ini adalah menghadirkan produk mereka di berbagai platform. Orang tak lagi mengakses internet hanya melalui komputer, tapi juga smart device. Para pengguna memiliki perilaku masing-masing ketika menggunakan berbagai perangkat tersebut. Tidak akan sama cara membaca di layar komputer dengan di smart phone. 

Memuaskan pembaca di berbagai perangkat dengan segala perilaku uniknya (user experience), menjadi tantangan berat berikutnya. Begitu juga dengan tantangan memaksimalkan pengalaman atas konten multimedia di berbagai perangkat itu. 

Bukan hanya user experience dari sisi pembaca yang mesti diperhatikan, tapi juga pihak pengiklan. Keempat, media sebagai open platform. Profesi wartawan tak bisa lagi hanya bertindak sebagai content creator dan media sebagai content provider. 

Sekarang kita juga sudah kenal istilah ‘Blogger Istana’ merujuk pada kebijakan Presiden Jokowi membawa serta 2 orang blogger Kompasiana setiap kunjungan kerja. Profesi social media developer makin panen project untuk mengembangkan reputasi figur atau institusi di jejaring sosial dan mewujudkan transparansi publik. 

Nyawa koran di daerah memang akan sedikit lebih panjang karena mayoritas pendapatannya digantungkan dari iklan atau advertorial pemerintah daerah (Pemda) yang nilainya miliaran per tahun. Koran juga masih mendapat tempat besar di masyarakat daerah karena penetrasi internet yang tidak secepat di kota-kota besar di Pulau Jawa. 

Namun pertumbuhan penetrasi internet di Indonesia, terutama daerah, adalah kenyataan dan sedang terjadi. Presiden Jokowi telah menggandeng Google mewujudkan Google Loon sebagai penyedia internet di remote area Indonesia. 

Kebijakan pemerintah juga dengan mudah berubah tergantung rezim. Setelah Pemerintah Pusat melarang Pemda beriklan display di koran, maka pengetatan anggaran iklan advertorial Pemda tinggal tunggu waktu. 

Tak ada yang bilang bahwa cara-cara atau jalan keluar menghindari kiamat bagi koran ini mudah ditemukan atau diwujudkan. Dengan model bisnis koran yang telah mapan berabad-abad, besarnya infrastruktur dan mengkristalnya kultur lama, membuat industri ini kesulitan bermanuver. 

Evolusi dan seleksi alam mengajarkan kita bahwa yang mampu bertahan hidup bukanlah yang tercerdas, terkuat, terlama atau terkaya. Tapi yang paling mampu beradaptasi. Koran akan mati, namun medium akan tetap hidup selamanya. Menghadapi ini, sebagian memilih merengek, sebagian lagi lebih memilih mati sebagai legenda. Tapi sebagian besar akan mati sebagai pecundang.( matra/red)

Share this Post :

No comments yet.

Leave a Reply