​Nguri- Nguri Budaya Jawi, Tradisi Siraman Sedudo Peringatan 1 Muharram Sedot Minat Wisatawan

Selamatan di sekitar air terjun Sedudo

Bupati Nganjuk Dalam Acara Siraman Sedudo memperingati 1 Muharram

Pengunjung di sekitar sungai air terjun Sedudo

Obsesinews.com,nganjuk- Tradisi Siraman Sedudo Yang Digelar Rutin Setiap Bulan Suro Ini Meyedot Minat Wisatawan Tidak Hanya Dari Nganjuk, Namun Tidak Sedikit Diantaranya Yang Berasal Dari Luar Kota.
 

Setelah prosesi selesai, wargapun beramai-ramai mandi di bawah guyuran air terjun sedudo.

 Sebab mandi air terjun sedudo pada bulan suro seperti sekarang ini di percaya dapat membuat tubuh awet muda.
Siraman Sedudo merupakan tradisi yang masih di pegang teguh warga di lereng Gunung Wilis, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur sejak ratusan tahun silam.
Dalam tradisi tersebut warga melakukan ritual sebelum mandi bersama di bawah guyuran air terjun Sedudo yang dipercaya dapat membuat tubuh awet muda.

 

Dengan di pimpin oleh sesepuh desa, warga di lereng Gunung Wilis tepatnya di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk ini menggelar ritual siraman Sedudo.

 

Diiringi musik gamelan jawa puluhan orang gadis di arak untuk mengambil air terjun sedudo.

 

Namun sebelumnya, rangkaian prosesi ritual di lakukan terlebih dahulu oleh sesepuh desa. Bunga tujuh rupa di tebarkan ke air terjun lalu sesaji berupa makanan lengkap dengan lauk pauknya di larung ke tengah sungai aliran air terjun.

 

Setelah selesai, barulah puluhan gadis yang sudah di tunjuk dengan dibantu beberapa orang perjaka mengambil air dari guyuran air terjun secara langsung.

 

Air yang disimpan dalam kendi kecil ini kemudian dimasukkan ke dalam wadah khusus untuk di pakai jika sewaktu-waktu ada warga yang memerlukan, baik untuk pengobatan ataupun untuk kepentingan-kepentingan yang lainnya.                                               
Uniknya, pengambilan air ini harus dilakukan oleh 7 gadis perawan dan 7 jejaka sebagai syarat utama dalam prosesi ritual ini.
Air yang di ambil langsung dari air terjun ini nantinya akan disimpan dalam tempayan ukuran besar yang dibuat untuk keperluan warga.
Tradisi yang dilakukan setahun sekali di bulan Muharam ini tak hanya menyedot antusias wisatawan local, namun turis asing pun sangat kagum dengan budaya asli Indonesia.
Menurut salah satu turis asing yang datang ”saya dari Prancis melihat tradisi sangat bagus saya suka melihat tarianya,”terang Alena turis asal Prancis.
Terpisah Bupati Nganjuk Drs.H Taufiqurahman mengatakan prosesi siraman sedudo ini dilaksanakan setahun sekali di bulan Suro untuk melestarikan budaya warisan leluhur.
”Tradisi siraman di bulan suro untuk nguri nguri adat jawa dan untuk memberi pembelajaran kepada masyarakat khususnya wargaNganjuk untuk lebih berbuat baik dan meningkatkan rasa gotong royong,” tambah Bupati yang sering disorot awak media dalam polemik yang ada di Kabupaten Nganjuk ini.
Diharapkan dengan di adakanya tradisi ini warga akan semakin mengingat akan nilai budaya warisan leluhur agar tetap menjaganya dan melestarikanya.(kus/red)

Share this Post :

No comments yet.

Leave a Reply