Makna Ngumbah Keris Sebagai Peringatan Bulan Muharam

Bupati Nganjuk Turut Hadir Kegiatan Ngumbah Keris

Obsesinews.com, Nganjuk – Setiap Memasuki Bulan Muharam atau Suro Bagi Suku Jawa, Tak Lepas Dari Adat Kebiasaan Berupa Fenomena ‘Ngumbah Keris’ atau Pencucian Pusaka Peninggalan Leluhur.

Keris merupakan sejenis senjata andalan kaum pria dalam adat Jawa. Dimaknai sebagai “sesuker kang ginaris” (halangan dalam hidup yang telah digariskan sebagai takdir-Red) yang bilamana dibiarkan tentu akan menimbulkan kesulitan dalam menempuh kehidupan. 

Keris orang Jawa umumnya memiliki lekukan atau ‘luk’ dengan jumlah ganjil pada bentuk dengan motif tertentu. Memang ada juga yang tanpa ‘luk’ namun tetap bermotif.

Beraneka Keris Pusaka yang Dimandikan

Luk yang umum berkisar antara 9,11 hingga 16. Keris dengan luk 11 dimaknai sebagai Rukun Islam (5) dan Rukun Iman (6). Keduanya harus seimbang dan saling mendukung. Rukun Islam tanpa Rukun Iman tak mungkin bisa terwujud. Rukun Iman tanpa mewujudkan dalqm Rukun Islam, berarti Munafiq alias omong kosong.
Untuk itu, keduanya yang menyatu dalam gaman alias senjata andalan, harus dicuci atau dibersihkan agar dapat saling mendukung meski penempatannya juga terbungkus dan “disembunyikan” di balik tubuh. 

“Bermakna jika takdir seseorang itu harus ‘disembunyikan’ meski akhirnya bisa diketahui orang lain. Kalau takdirnya baik tidak masalah, kalau buruk ‘kan nggak enak kalau diketahui orang,” tutur Soeminto HS (72), pensiunan guru yang juga Pemerhati Keris di Kabupaten Nganjuk. 

Begitu pula menurut Budayawan Islam Emha Ainun Najib dari Jombang menambahkan, “Selama kita merawat dan memfungsikan keris sebagai warisan budaya leluhur, tidak masalah. Asal jangan berlebihan, apalagi sampai diyakini memiliki ‘yoni’ atau energi tertentu yang bisa memberi berkah, jadi syirik nantinya,” ujarnya pada media, Kamis (21/9) di sela-sela kesibukannya.

Dengan begitu, mari kita sambut kedatangan Tahun Baru Hijriyah atau 1 Muharram 1439 H ini dengan semangat beribadah, mempererat ukhuwah dengan tetap menjaga “tepo sliro” di tengah perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat agar tetap terjaga semangat persatuan bangsa ini. (Agg/red)

Share this Post :

Comments are closed.